Dalam upaya memperkuat ekosistem musik lokal, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Artis Penyanyi dan Pencipta Lagu Republik Indonesia (PAPPRI) Sulawesi Tengah meluncurkan inisiatif yang dinanti-nanti. Salah satu langkah signifikan yang diambil adalah penyelenggaraan ajang pencarian bakat menyanyi yang dikenal dengan nama Equistar Sulawesi Tengah 2026. Kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk menemukan bintang baru, tetapi juga untuk membangun infrastruktur yang mendukung perkembangan musik di daerah.
12 Finalis Berkompetisi di Grand Final
Setelah melalui proses seleksi yang ketat, sebanyak 12 finalis terpilih untuk melaju ke babak Grand Final. Seleksi tersebut dimulai sejak Mei 2026 dan melibatkan berbagai tahapan kurasi yang mendalam. Para finalis ini datang dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah, mencerminkan beragam talenta yang ada di kawasan ini.
Lebih dari Sekadar Lomba
Equistar bukan hanya sekadar ajang kompetisi; acara ini merupakan bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang dirancang untuk memajukan para peserta. Ketua DPD PAPPRI Sulteng, Umariyadi Tangkilisan, atau yang lebih dikenal sebagai Adi Tangkilisan, menekankan pentingnya menyediakan ruang pengembangan bagi para pemenang. Menurutnya, meskipun banyak talenta dari Kota Palu telah meraih prestasi dalam berbagai kompetisi, tantangan terbesar mereka adalah kurangnya dukungan setelah memenangkan perlombaan.
“Kami ingin memastikan bahwa para pemenang tidak hanya berhenti di panggung kompetisi. Melalui Equistar, kami berkomitmen untuk membangun ekosistem industri kreatif yang berkelanjutan,” jelas Adi Tangkilisan. Dia menambahkan bahwa industri musik memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan sekadar hobi, dengan penekanan pada disiplin dan profesionalisme.
Skema Kontrak dan Dukungan untuk Finalis
Program Equistar memberikan lebih dari sekadar hadiah. Setiap finalis akan terikat dalam skema kontrak kerja selama satu tahun yang memungkinkan mereka mendapatkan berbagai dukungan pengembangan karier. Kontrak ini mengharuskan panitia untuk mempertemukan finalis dengan berbagai pelaku industri musik, memberikan mereka peluang untuk belajar, berkolaborasi, dan tumbuh dalam karier musik mereka.
Sebagai bagian dari dukungan, setiap finalis juga akan mendapatkan honorarium bulanan minimal sebesar Rp1 juta selama periode pembinaan. Selain itu, panitia memastikan bahwa para peserta akan memiliki kesempatan untuk tampil di berbagai acara musik:
- Selama empat bulan pertama: minimal satu penampilan per bulan dengan honor minimal Rp500 ribu.
- Dari bulan kelima hingga kedua belas: minimal dua penampilan per bulan.
Apabila terdapat pendapatan yang lebih besar dari kegiatan, sistem bagi hasil akan diterapkan, yang diatur melalui manajemen. Adi juga menekankan bahwa manajemen bertugas untuk mengelola pelatihan, jadwal, pengembangan komunitas, dan peluang kerja bagi para peserta.
Tanggung Jawab dan Kedisiplinan
Para finalis tidak hanya mendapatkan dukungan; mereka juga terikat untuk mengikuti program pembinaan yang ketat. Peserta diwajibkan untuk mengikuti latihan minimal dua kali seminggu, yang mencakup berbagai materi seperti pelatihan vokal, teknik bernyanyi, etika profesi, dan hukum hak cipta. Pembinaan ini dirancang untuk membangun mental yang kuat dan sikap profesional di kalangan peserta.
“Menjadi seorang penyanyi yang dihargai oleh publik bukan hanya tentang memiliki suara yang bagus. Ini juga tentang disiplin, tanggung jawab, dan komitmen,” ujar Adi. Dia menyatakan bahwa Equistar bertujuan untuk membentuk industri musik yang solid mulai dari tingkat lokal, sehingga menciptakan lapangan kerja baru di sektor musik.
Proses Seleksi yang Ketat
Program Manajer Equistar Sulteng, Yudhi Nugraha, menjelaskan bahwa proses seleksi diawali dengan penerimaan sekitar 50 pendaftar yang mengirimkan berkas dan video penampilan mereka. Dari 50 peserta tersebut, 25 orang berhasil melangkah ke tahap audisi daring. Hasil kurasi ini menghasilkan 12 finalis yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah, termasuk Kota Palu, Kabupaten Poso, Donggala, Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.
Grand Final dijadwalkan berlangsung pada 13 Juni 2026. Namun, menjadi juara tidak otomatis menjamin peserta mendapatkan kontrak dengan Equistar. Penilaian akhir akan mempertimbangkan hasil pembinaan yang dijalani selama program Equistar Academy, yang merupakan bagian integral dari inisiatif ini.
Equistar Academy: Membangun Mental dan Karakter
Program Equistar Academy difokuskan pada pengembangan diri peserta. Selama seminggu, peserta akan terlibat dalam pelatihan daring yang mencakup berbagai materi penting, seperti personal branding, teknik vokal, motivasi, dan psikologi mental. Pendekatan ini bertujuan untuk membekali finalis dengan keterampilan yang diperlukan agar dapat bersaing di industri musik yang semakin ketat.
Dengan dukungan yang komprehensif dan pembinaan yang berkelanjutan, Equistar diharapkan dapat membantu mengangkat ekosistem musik lokal di Sulawesi Tengah ke tingkat yang lebih tinggi. Inisiatif ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi individu untuk bersinar, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan industri musik secara keseluruhan.
Equistar menjadi contoh nyata bagaimana sebuah program tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga pada pembentukan ekosistem yang mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan talenta lokal. Dengan pendekatan yang berorientasi pada pengembangan, PAPPRI Sulteng menunjukkan komitmennya untuk menjaga dan memajukan ekosistem musik lokal di Sulawesi Tengah.





