Bobby Nasution Dorong Bank Sumut Raih Kategori Bank Menengah KBMI 2 untuk Pembangunan Ekonomi

Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, berkomitmen untuk meningkatkan status PT Bank Sumut (Perseroda) agar dapat mencapai kategori Kelompok Bank dengan Modal Inti (KBMI) 2. Dalam upaya ini, Bobby Nasution dan pemegang saham lainnya telah sepakat untuk mengejar target tersebut, menyadari pentingnya peningkatan modal untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah.
Pengertian KBMI 2 dan Posisi Bank Sumut
KBMI 2 adalah kategori bank menengah yang ditetapkan memiliki modal inti antara Rp6 triliun hingga Rp14 triliun. Saat ini, Bank Sumut masih tergolong dalam kategori KBMI I, yang menempatkannya di bawah standar yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK berencana untuk mengkonsolidasikan bank-bank yang berada dalam kategori KBMI 1 pada tahun 2029, menjadikan ini sebagai dorongan tambahan bagi Bank Sumut untuk segera bertransformasi.
Target Modal Inti Bank Sumut
Bobby Nasution menjelaskan bahwa berdasarkan peraturan OJK, bank harus memiliki modal inti minimal Rp6 triliun untuk masuk dalam kategori KBMI 2. “Modal sebesar Rp6 triliun akan membawa kita ke dalam KBMI 2. Sebagai pemegang saham, pemerintah daerah sepakat untuk mengejar target tersebut,” jelasnya setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan untuk Tahun Buku 2025 PT Bank Sumut yang berlangsung di Kantor Pusat Bank Sumut, Medan.
Modal Inti Saat Ini dan Rencana Penambahan
Saat ini, modal inti Bank Sumut tercatat mencapai Rp5,2 triliun, yang berarti masih diperlukan tambahan sebesar Rp800 miliar untuk mencapai kategori KBMI 2. Dalam rangka mencapai target tersebut, seluruh pemegang saham, termasuk Pemprov Sumut dan kabupaten/kota, telah sepakat untuk mengalokasikan kembali 15% dari dividen tahun 2025 sebagai modal untuk tahun 2026. Selain itu, Pemprov Sumut juga berencana menambah modal sebesar Rp100 miliar pada tahun ini, sedangkan Tapanuli Selatan akan menyetorkan sekitar Rp70 miliar.
Strategi Penambahan Modal
“Beberapa daerah telah merencanakan penganggaran, seperti Tapanuli Selatan yang akan mencantumkan penambahan sekitar Rp70 miliar dalam APBD 2025, termasuk 15% dari dividen. Kami, dari Provinsi Sumut, juga akan berkontribusi dengan penambahan modal sebesar Rp100 miliar,” kata Bobby Nasution, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan modal Bank Sumut.
Harapan untuk Pengembangan Produk
Bobby Nasution juga menekankan pentingnya Bank Sumut untuk tidak bergantung sepenuhnya pada APBD. Ia berharap bank dapat mengembangkan lebih banyak produk yang kompetitif di pasar. “Kami ingin agar Bank Sumut tidak hanya mengandalkan APBD dan Aparatur Sipil Negara. Oleh karena itu, perlu ada lebih banyak produk yang bersaing,” ujarnya.
Strategi Diversifikasi Produk
Dalam upaya meningkatkan daya saing, Bobby Nasution menekankan beberapa langkah strategis yang perlu diambil oleh Bank Sumut:
- Menawarkan produk yang bervariasi untuk menarik lebih banyak nasabah.
- Meningkatkan kualitas layanan agar lebih memuaskan konsumen.
- Menjaga tarif yang kompetitif untuk menarik pihak ketiga.
- Berinovasi dalam produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
- Membangun kerjasama dengan berbagai sektor untuk memperluas jaringan.
Partisipasi dalam RUPS
RUPS yang berlangsung kali ini dihadiri oleh seluruh kepala daerah dari kabupaten dan kota se-Sumut, serta para komisaris dan jajaran direksi Bank Sumut. Kehadiran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dari Pemprov Sumut dan kabupaten/kota juga menandakan dukungan kuat terhadap langkah-langkah strategis yang diambil oleh Bank Sumut.
Dengan komitmen dan kerjasama dari semua pemangku kepentingan, diharapkan Bank Sumut dapat segera mencapai kategori KBMI 2, yang akan memberikan dampak positif bagi pembangunan ekonomi di Sumatera Utara. Melalui peningkatan modal dan diversifikasi produk, Bank Sumut diharapkan bisa berkontribusi lebih besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

